Majelis Rakyat Papua

MRP: Masyarakat Adat Biak sudah 3 tahun tolak peluncuran roket LAPAN

Sejumlah warga menggelar aksi menolak pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua.(Dok. Forum Peduli Kawasa Byak)

JAYAPURA, MRP – Ketua Majelis Rakyat Papua atau MRP, Timotius Murib menyatakan penolakan masyarakat adat Biak terhadap rencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN membangun tempat peluncuran roket telah disampaikan sejak tiga tahun silam. Menurutnya, MRP telah meneruskan aspirasi masyarakat adat Biak itu kepada pihak berwenang, termasuk pemerintah pusat.

Hal itu dinyatakan Timotius Murib di Kota Jayapura, Papua, Kamis (15/4/2021). “Seharusnya pemerintah dan LAPAN melihat [aspirasi] itu, untuk dipertimbangkan. Kami adalah lembaga masyarakat adat, makanya kami mendukung aspirasi masyarakat untuk [meminta] tidak ada pembangunan pusat peluncuran roket di Kabupaten Biak [Numfor],” kata Murib dengan tegas.

Menurut Murib, penolakan masyarakat adat di Biak itu bukan tanpa alasan, apalagi masyarakat adat yang akan mengalami dampak jika Bandar Antariksa jadi dibangun di Biak. “Intinya, aspirasi masyarakat pasti akan kami dukung,” ujarnya.

Sebelumnya, para tokoh masyarakat adat di Biak Numfor menggelar Sidang Pleno Khusus Kainkain Karkara Byak pada 7 April 2021. Sidang Pleno itu menyatakan pernyataan bahwa masyarakat adat mendukung pembangunan Bandar Antariksa Biak tidak sah, dan tidak merepresentasikan pandangan/aspirasi masyarakat adat setempat. Kainkain Karkara Byak juga membentuk tim advokasi untuk mengambil langkah hukum menghentikan LAPAN membangun peluncuran satelit di Biak.

Selain itu, advokat Imanuel Rumayom dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kyadawun, mengingatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pihak terkait agar masyarakat adat tidak dirugikan dalam pembangunan Bandara Antariksa di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Ia mengatakan, apa gunanya pembangunan jika masyarakat adat di sana dirugikan. Mereka kehilangan hak-haknya, terutama hak atas tanah ulayatnya.

“Pemerintah pusat tidak bisa langsung mengiakan akan membangun Bandara Antariksa di Biak. Di situ ada hak ulayat, ada masyarakat adat dan keputusan mesti melibatkan semua pihak,” kata Imanuel Rumayom kepada Jubi. (*)

 

Sumber: JUBI

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *