Majelis Rakyat Papua

Pokja Perempuan MRP siap terima Koalisi Perempuan Papua

Pertemuan Kelompok Kerja Perempuan MRP. – Humas MRP

JAYAPURA, MRP – Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua atau Pokja Perempuan MRP mengagendakan pertemuan dengan Koalisi Perempuan Papua pada Selasa (14/7/2020) di Kantor MRP, Kota Jayapura, Papua. Pertemuan itu akan membahas kasus pelecehan perempuan Papua dalam unggahan status media sosial, serta membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan Papua.

Hal itu dinyatakan Ketua Pokja PerempuanMRP, Ciska Abugau kepada Jubi di Jayapura, Senin (13/7/2020).  “Besok itu Koalisi Perempuan Papua mau datang beraudiensi dengan kami,” kata Abugau.

Abugau membenarkan bahwa pertemuan itu akan membahas masalah pelecehan terhadap perempuan yang terjadi di media sosial beberapa waktu lalu. Namun Abugau menyatakan pertemuan itu juga bisa membahas masalah perempuan Papua secara lebih luas.

ada Senin (6/7/2020) pekan lalu, sejumlah tokoh perempuan Papua yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Papua menggelar keterangan pers dan mengecam status Facebook yang diunggah MJ Yarisetouw pada Kamis (2/7/2020) lalu. Wakil Ketua Solidaritas Perempuan Papua, Naci Jacqueline Hamadi mengatakan status MJ Yarisetouw yang viral pada Jumat (3/7/2020) itu adalah bentuk kekerasan verbal terhadap perempuan, dan berpotensi menjadi kekerasan berganda terhadap korban kekerasan terhadap perempuan.

Jacqueline Hamadi menyatakan Yarisetouw harus menghormati dan menghargai kedudukan perempuan Papua sebagai mama yang mewariskan ras Melanesia, mewariskan lelaki Papua. Tanpa perempuan Papua, tidak mungkin ada laki-laki Papua. “Apabila di Amerika [Serikat] mereka perjuangkan Black Lives Matter, hari ini kami nyatakan Papua Women Lives Matter. Kami akan berjuang untuk mempertahankan hak dan martabat kami sebagai perempuan Papua,” kata Hamadi.

Ia mengingatkan, kini ada banyak perempuan Papua yang berkarya dan berkarir di seluruh penjuru dunia, menekuni berbagai bidang profesi dan pekerjaan. Telah ada banyak perempuan Papua yang menjadi Guru Besar bergelar Profesor, menempuh pendidikan tinggi hingga bergelar Doktor, menjalankan profesi mulia seperti dokter, dan banyak pekerjaan lainnya.

“Jadi sebenarnya postingan status Facebook MJ Yarisetouw itu ditujukan kepada siapa? Setiap perempuan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki hak [untuk mendapatkan penghormatan atas kehidupan pribadinya]. Anda tidak punya hak untuk mengurus [kehidupan pribadi] mereka. [Ujaran Anda bisa tertuju kepada] perempuan [yang] mendapatkan perlakuan, kekerasan verbal dan non verbal, atau bahkan pemerkosaan, [dan ujaran Anda menimbulkan] kekerasan berganda. Itu tidak boleh diulangi lagi,” tegas Hamadi dalam keterangan pers Koalisi.

Hamadi meminta MJ Yarisetouw meminta maaf secara terbuka atas status facebook yang diunggahnya. “Dalam seminggu ini kami tunggu. Jika tidak, kami [akan] melaporkan kepada pihak berwewenang untuk melanjutkan proes Hukum,” katanya.

MJ Yarisetouw akhirnya menggelar keterangan pers terpisah pada Senin pekan lalu, meminta maaf kepada perempuan Papua karena mengunggah status Facebook yang melecehkan dan merendahkan martabat perempuan Papua. Permohonan maaf itu juga disiarkan secara langsung melalui laman Facebook Yarisetouw. “Saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya,” kata Yarisetouw.

Yarisetouw mengakui unggahan statusnya telah menciderai perasaan seluruh “perempuan tanah” atau perempuan Papua. “Kepada seluruh perempuan Papua yang ada di Tanah Papua dan di manapun berada, sekali lagi [saya meminta] maaf. Saya tidak akan mengulanginya, sebab [perbuatan saya] itu menciderai hati perempuan Papua. Sekali lagi, saya memohon maaf kepada bapa, mama, dan khususnya perempuan Papua atau perempuan tanah, atas pontingan saya yang telah melukai hati dan perasaannya,” katanya.(*)

Sumber: Jubi.co.id

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on print