Majelis Rakyat Papua

Anggota MRP bantu bahan makanan ke asrama mahasiswa dan panti asuhan

Siska Abugau menyerahkan bantuan di Panti Asuhan Polomo Sentani di Kabupaten Jayapura. Bantuan diterima langsung pembina Asrama Polomo, Pastor Eddy Doga OFM – Jubi/dok pribadi

JAYAPURA, MRP – Wakil Ketua Pokja Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP), Siska Abugau, memberikan bantuan bahan makanan (bama) untuk tiga asrama mahasiswa dan satu panti asuhan. Ketiganya dalah asrama mahasiswa dan mahasiswi Kabupaten Mimika, asrama mahasiswa Kabupaten Intan Jaya di Kota Jayapura, dan Panti Asuhan Polomo di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Abugau mengatakan bantuan ini wujud kerja sama dirinya sebagai wakil masyarakat di MRP untuk mengajak masyarakat mencegah penyebaran virus Corona dengan tinggal di rumah. Tinggal di rumah dalam rangka melindunggi diri dan sesama dari ancaman virus yang datang tidak bisa diduga ini.

“Dari tiga tempat ini, tujuan utama hanya satu yakni hati-hati dan tetap dalam rumah, berdoa dan bertobat dari kebiasaan yang tidak menguntungkan diri sendiri, orang lain, dan masa depan serta sayangi diri dan orang lain,” ungkap Abugau usai menyerahkan bantuan di Asrama Mimika di Kota Jayapura, Kamis (2/4/2020).

Abugau berharap bahan makanan yang diserahkanya bisa memenuhi kebuhan penghuni asrama selama pembatasan sosial dilakukan. Walupun tidak cukup tetapi bahan makanan yang sedikit itu bisa dimasak bersama, duduk bersama, makan bersama dalam keprihatinan bersama sebagai satu komunitas bersama.

“Bantuan bahan makanan, biar tinggal di asrama masak dan makan bersama sebagai satu keluarga,” ungkapnya kepada Jubi usai menyerahkan bantuan.

Ketua Asrama Mimika, Francis Omega Kogoya,  yang menerima bantuan itu mengatakan bantuan bahan makanan itu sangat mengatasi kebutuhan 100 mahasiswa dan mahasiswi Kabupaten Mimika. Mahasiswa putra berjumlah 50 orang dan putri 52 orang.

“Bantuan yang Ibu berikan sudah luar biasa. Bantuan sudah cukup. Bantuan siap dipakai untuk ssrama putri dan putra,” ungkapnya.

Kata dia, bantuan itu lebih dari cukup selama pembatasan sosial diberlakukan.

“Kami ini mau pergi tidak bisa, ke keluarga takut, mereka ada anak isteri, sementara ini dibatasi jadi kami semua di asrama,” ungkapnya. (*)

 

Sumber: Jubi.co.id

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on print