Categories Berita

MRP: Menghapus rasisme harus dimulai dari pendidikan di rumah

Ilustrasi

Jayapura – Majelis Rakyat Papua mengajak  semua pihak berperan menghapuskan rasisme. Upaya untuk menghapuskan rasisme harus dimulai dari diri sendiri dan pendidikan dalam setiap  keluarga. 

Pernyataan itu disampaikan Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP) dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Keerom dan Kabupaten Jayapura pada 19-20 September 2019 lalu. 

“Kita harus mulai dari dalam keluarga, lingkungan, dan kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkap Orpa Anary dalam diskusi dengan para tokoh dan aktivis perempuan di Kabupaten Jayapura pada 19 September 2019. 

Anary menyebut komunikasi yang terbangun dalam keluarga akan menjadi wajah sebuah lingkungan masyarakat. Wajah yang terbangun dalam lingkungan masyarakat itu akan terus terpancar menjadi wajah sebuah bangsa. 

Siska Abugau, Ketua Tim Kunjungan Pokja Perempuan MRP ke Kabupaten Keerom menekankan hal senada dalam diskusi dengan para tokoh dan aktivis perempuan di Keerom. “Keluarga asli Papua maupun keluarga pendatang yang kita undang hari ini harus membangun keluarga yang mencintai semua orang,” ungkapnya di Arso di Kabupaten Keerom pada 20 September 2019. 

Abugau mengatakan pendidikan keluarga menjadi awal yang menentukan dalam membentuk cara pandang yang tidak bias rasisme, dan dalam jangka panjang akan membentuk masyarakat yang bebas dari bias rasisme. Akan tetapi, upaya itu masih berhadapan kecenderungan kelompok masyarakat yang hanya mempedulikan kelompoknya dan mengabaikan kelompok lain.

“Ini masalah yang kita hadapi saat ini. Mulai bedakan kamu otang asli Papua dan kami bukan dan macan-macam,” ungkap Abugau. 

Anggota Pokja Perempuan MRP, Nehemi Yebikon mengarisbawahi kemanusiaan tidak bisa dibatasi dengan perbedaan yang hitam dan putih. Tidak ada agama manapun yang mengajarkan adanya perbedaan derajat di antara sesama manusia. “Alkitab mengajarkan manusia itu ciptaan Tuhan yang segambar dengan Tuhan,” ungkap Yebikon.

Yebikon menegaskan semua manusia pemeluk agama dan tradisi apapun mengajarkan manusia itu ciptaan Tuhan yang sempurna. Karena itu, setiap individu harus berperan aktif membangun pemahaman yang sama tentang harkat dan martabat manusia sebagai makhluk sosial dan ciptaan Tuhan yang sama. “Kita ini semua sama citra Allah,” ungkapnya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Keerom, Pokja Perempuan MRP melibatkan orang non-Papua untuk berdialog dan mendengar persoalan yang dihadapi perempuan Papua. Langkah itu diharapkan akan memperluas keterlibatan perempuan non-Papua dalam mendorong keadilan dan perdamaian di Tanah Papua.

Siska Abugau menyatakan pelibatan perempuan non-Papua dalam dialog yang difasilitasi MRP pada Jumat (20/9/2019) dilakukan agar para tokoh perempuan non-Papua juga mendengar dan bisa memahami persoalan yang dialami perempuan Papua. Dalam kunjungan kerja di Keerom itu, Pokja Perempuan MRP menjaring masukan dan gagasan dari perempuan non-Papua.

“Biasanya hanya asli Papua, pendatang hanya pemantau dan hadir untuk diminta pandangan tetapi kali ini tidak. Semua hadir bagian dari diskusi Karen membangun pemahaman yang sama itu tugas semua yang ada di Papua,”ungkapnya.(*)

Sumber : jubi.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *